Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kinerja saham Bukalapak dan cara membeli saham BUKA

Halo sahabat, pernahkah kalian mendengar nama bukalapak? pasti tau dong, bukalapak adalah salah satu marketplace terbesar di indonesia yang tetntunya kita sering belanja di bukalapak sampai saat ini. Apakah anda ingin memiliki saham bukalapak? yuk simak, bagaimanasih prospek dan kinerja bukalapak yang akan kita bahas pada artikel ini.

Baca Juga : Manfaat Investasi Sejak Muda

PT Bukalapak.com Tbk adalah operator pasar Bukalapak, yang memfasilitasi berbagai transaksi e-commerce B2B, B2C, C2C serta investasi online. Startup ini didirikan pada 2010 lalu berkembang pesat hingga mencapai status unicorn pada 2017 dengan valuasi antara USD2,5 miliar hingga USD3,0 miliar. Pada tahun 2020, Bukalapak memiliki sekitar 6,9 juta merchant dan 104,9 juta pengguna terdaftar. . Total nilai pemrosesan transaksi mencapai $6 miliar dengan pendapatan $95,8 juta (1,35 triliun).

Pendapatan Bukalapak bersumber dari tiga segmen, yakni:

  1. Pendapatan Marketplace; mencakup komisi penjualan pedagang pada platform e-commerce, pengeluaran pemasaran oleh pedagang, serta pemenuhan layanan logistik yang ditawarkan perseroan kepada pedagang.
  2. Pendapatan Mitra; meliputi komisi penjualan produk fisik dan virtual pada platform Mitra Bukalapak, serta penyediaan layanan logistik ke Mitra.
  3. Pendapatan BukaPengadaan; diperoleh dari biaya barang dan margin penjualan barang fisik dan produk virtual yang difasilitasi oleh Perseroan atas produk Perseroan sendiri ataupun produk Mitra.

Mayoritas pendapatan Bukalapak diperoleh dari segmen Marketplace, yakni sekitar 73%. Sedangkan pendapatan dari segmen Mitra dan BukaPengadaan masing-masing sebesar 14% dan 9%. 

Saham Bukalapak saat ini dimiliki kepada 55 investor institusi dan swasta (termasuk 1 pemegang saham lainnya yang terdiri dari 204 karyawan atau mantan karyawan). Pemegang saham terbesar Bukalapak saat ini meliputi:

  1. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) menguasai 31,90% melalui anak usahanya PT Kreatif Media Karya.
  2. Ant Financial (Alibaba Group) menguasi saham melalui anak usahanya, API (Hong Kong) Investment Ltd, sebesar 17,40%.
  3. Para pendiri Bukalapak adalah Ahmad Zaky (5,91%), Muhamad Fajrin Rasyid (3,62%), dan Nugroho Heru Cahyono (2,8%).
  4. Archipelago Investment Ptd Ltd, sebuah perusahaan induk investasi asal Singapura, tercatat sebesar 12,60%.

Bukalapak.com nantinya memilih kode saham BUKA dan melaksanakan penawaran saham perdana tanpa melalui mekanisme e-IPO. Untuk berpartisipasi memiliki saham tersebut, investor perlu mengisi formulir khusus dari situs Bukalapak dalam periode 28-29 Juli 2021. Setelah mengisi formulir, investor wajib menyetorkan dana ke RDN masing-masing paling lambat sebelum T-1 berakhirnya penawaran umum (30 Juli 2021). Salinan formulir dan bukti transfer dana kemudian dikirimkan kepada sekuritas masing-masing.

  • Masa Penawaran Awal: 9 Juli-19 Juli 2021
  • Tanggal Efektif: 26 Juli 2021
  • Masa Penawaran Umum Perdana Saham: 28 Juli-30 Juli 2021
  • Tanggal Penjatahan: 3 Agustus 2021
  • Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik: 5 Agustus 2021
  • Tanggal Pencatatan Pada Bursa Efek Indonesia: 6 Agustus 2021

Total jumlah saham beredar BUKA mencapai 103,06 miliar lembar saham. BUKA akan menawarkan sebanyak-banyaknya 25.765.504.851 lembar saham biasa yang mewakili sekitar 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor ke perusahaan pasca-IPO. Harga penawaran pada masa book-building berkisar antara Rp750-Rp850 per lembar.

Estimasi nilai total maksimal dari hasil saham IPO Bukalapak sebesar Rp21,9 triliun. Rencananya, sekitar 66% dana akan dipakai untuk modal kerja perseroan. Sisanya akan dipergunakan untuk modal kerja entitas anak perusahaan. Bukalapak akan menawarkan saham maksimal dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan. Jumlah tersebut termasuk opsi alokasi saham untuk karyawan maksimal O,1 persen dan opsi MESOP untuk manajemen dan karyawan maksimal 4,91 persen dari total penawaran dan modal disetor.

Bukalapak menggandeng Mandiri Sekuritas dan Buana Capital Sekuritas sebagai Joint Lead Managing Underwriter serta UBS Sekuritas Indonesia sebagai Domestic Underwriter. Bukalapak juga menggandeng UBS dan BofA Securities sebagai Joint Global Coordinators serta UBS, BofA Securities, dan Mandiri Sekuritas sebagai Joint Bookrunners.

Kinerja Perusahaan

Prospektus Bukalapak menunjukkan bahwa perusahaan masih mencetak kerugian hingga laporan keuangan terakhirnya per 31 Maret 2021. Namun, nilai rugi usaha terus menerus berkurang sejak tahun 2018 hingga tahun 2020. Pendapatan Bukalapak juga terus bertumbuh.

Berikut ini rangkuman kinerja laba BUKA berdasarkan laporan tersebut (dalam ribuan rupiah kecuali jika dinyatakan secara khusus). 

Komponen Laba/Rugi

I/2021

I/2020

Pendapatan neto

423.704.907

320.232.091

Rugi usaha

-397.028.873

-327.999.510

Rugi yang dapat diatribusikan  kepada entitas induk

-393.492768

-323.247.720

Rugi per saham (rupiah penuh)

-50,405

-39,385

Komponen Laba/Rugi

IV/2020

IV/2019

IV/2018

Pendapatan neto

1.351.664.460

1.076.603.891

291.907.495

Rugi usaha

-1.837.673.827

-2.841.379.545

-2.283.295.665

Rugi yang dapat diatribusikan kepada entitas induk

-1.349.041.582

-2.795.350.000

-2.243.420.328

Rugi per saham (rupiah penuh)

-171,480

-365,799

-341,298


Total aset Bukalapak naik jadi Rp1,69 triliun per Maret 2021 dibandingkan Rp1,48 triliun per Desember 2020. Ekuitas meningkat menjadi Rp1,70 triliun dari sebelumnya Rp1,60 triliun. Sedangkan liabilitas naik menjadi Rp1,05 triliun dari sebelumnya Rp985,82 miliar.

Rasio-rasio Keuangan Bukalapak

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang apakah suatu saham layak dibeli, lazimnya kita perlu meninjau rasio-rasio keuangan seperti ROE (Return on Equity), ROA (Return on Asset), NPM (Net Profit Margin), dan lain-lain. Namun, kita tak dapat memanfaatkannya dalam menilai Bukalapak.

Bukalapak merupakan perusahan startup yang masih merugi dan bergantung pada pendanaan dari luar. ROA, ROE, dan NPM negatif, sehingga kinerjanya menjadi sangat buruk jika dievaluasi ala perusahaan konvensional. Perusahaan juga jelas tidak dapat memberikan dividen selama perusahaan belum mampu menghasilkan laba. Namun, itu tidak lantas berarti Bukalapak memiliki masa depan yang suram, karena jangkauan pasar potensialnya yang sangat luas.

Teknik mengevaluasi kinerja dan prospek perusahaan startup berbasis teknologi itu semestinya agak berbeda dengan perusahaan konvensional. Ada tiga alternatif yang dapat dimanfaatkan:

  • Salah satu parameter rasio keuangan konvensional yang masih dapat dipergunakan untuk mengevaluasi startup padat teknologi adalah laju pertumbuhan tahunan majemuk (Compound Annual Growth Rate/CAGR). Pada paparan publik CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin menyatakan bahwa pertumbuhan CAGR mencapai 115%. 
  • Sejumlah pihak mengukur valuasi saham dengan cara berfokus pada market share dan bukan pada profitabilitas perusahaan. Data market share dapat diambil dari total transaksi. Total transaksi di Bukalapak mencapai Rp85,08 triliun per 2020, naik dari Rp57,39 triliun pada 2019, dan Rp28,34 triliun pada 2018.
  • Ada pula yang menghitung valuasi berdasarkan PSR (Price-to-Sales Ratio). PSR Bukalapak berdasarkan data-data per Maret 2021 kepada media Bisnis.com (9/9/2021) dengan kesimpulan bahwa harga penawarannya terlalu mahal.

Jumlah saham beredar Bukalapak mencapai 103,06 miliar lembar saham. Dalam laporan keuangan kuartal I/2021, Bukalapak membukukan pendapatan Rp423,7 miliar, sehingga pendapatan disetahunkan sekitar Rp1,69 triliun. Perhitungan revenue per share Bukalapak sama dengan Rp1,69 triliun dibagi 103,06 miliar lembar saham, yakni Rp16 per saham. Dengan demikian, harga book building IPO Bukalapak Rp750-Rp850 mencerminkan PSR 45,6x - 51,7x.

Baca Juga: Jenis-jenis Investasi yang bisa Dicoba Bagi Generasi Muda

Bukalapak merupakan perusahaan e-commerce unicorn asal Indonesia pertama yang melantai perdana di BEI. Jika anda ingin memiliki saham tersebut  Ada dua cara untuk menjadi Investor Bukalapak (BUKA),yaitu:

  1. Membeli saham Bukalapak saat IPO.
  2. Membeli saham Bukalapak di pasar sekunder.

Syaratnya:

- Memiliki Single Investor Identification (SID)

- Memiliki Sub Rekening Efek

- Memiliki Rekening Dana Nasabah

*Jika belum memiliki rekening efek, menghubungi sekuritas terdekat untuk pembuatan rekening efek dan tanyakan mekanisme pembelian saham IPO Bukalapak melalui sekuritas tersebut.

Baca Juga:  Mana Yang Lebih Untung Nabung Saham atau Reksa Dana ?

Caranya:

  1. Download Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS), informasi emisi saham, harga saham, dan prospektus awal beserta prospektus ringkas Bukalapak pada Info Lengkap: Bukalapak IPO dan Cara Pesan serta Beli Saham Bukalapak (BUKA).
  2. Hubungi broker pada perusahaan efek untuk menyampaikan pernyataan minat pembelian saham (hanya dapat dilakukan di sekuritas tempat investor membuka SRE).
  3. Kirim Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS) yang telah diisi dan ditandatangani ke e-mail yang diberikan masing-masing sekuritas.
  4. Investor memasukkan dana ke RDN pesanan. (Apabila dana belum berstatus good fund, maka pesanan belum dapat diproses).
  5. Masa penjatahan dilakukan pada 3 Agustus, distribusi dan pengembalian dana dijadwalkan pada 5 Agustus 2021.

Harap menjadi catatan: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. kami membuat informasi di atas tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Post a Comment for "Kinerja saham Bukalapak dan cara membeli saham BUKA"